My Activity

Friday, May 16, 2008

Sri (Jangan) Minggat

Sri, kapan kowe bali, kowe lunga ora pamit aku, jarene nang pasar arep tuku terasi, nganti sak prene kowe during bali…
Penyanyi campursari Sonny Jos menggambarkan Sri sebagai wanita sederhana nan lemah lembut tetapi berhati keras. Ketika menghadapi masalah rumah tangga yang tidak bisa ia tanggungkan lagi, Sri memutuskan untuk minggat. Kisah itu pun diabadikan Sonny dalam lagu 'Sri Minggat' yang dihapal semua orang itu.

Lagu sering kali menjadi cerminan kondisi sosial di sekitar kita. Bisa Sonny hanya berkhayal ketika menciptakan lagu itu. Tapi, sangat mungkin dia mendapatkan inspirasi dari keadaan di lingkungannya, di Probolinggo sana, sebelum menciptakan lagu itu.

Kita tidak tahu berapa banyak Sri-Sri yang lain yang menghadapi problem rumah tangga yang menyesakkan itu. Kalau hanya sekadar minggat sih tidak terlalu bikin pusing. Tapi kalau sudah nekat bunuh diri--apalagi kalau bunuh dirinya berjamaah mengajak anak dan suami--pasti bikin prihatin.

Orang-orang miskin yang malang itu sudah buntu akalnya. Mereka merasa ditinggalkan, kesepian sendiri, tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Jalan pintas yang mereka anggap terbaik itu pun mereka ambil.

Sampai sekarang ini kita punya sedikitnya 36,8 juta orang miskin dari total penduduk Indonesia. Jumlah itu masih akan meningkat lagi dengan tajam kalau Juni ini pemerintahan SBY-JK memutuskan menaikkan harga harga BBM sampai 30 persen. Sebuah studi menunjukkan bahwa kenaikan BBM itu akan melahirkan 8,55 persen orang miskin baru atau sebanyak 15,68 juta.
* * *
Nun di Jakarta sana, kita punya seorang wanita bernama Sri juga. Beda dengan Sri-nya Sonny Jos dari Probolinggo, Sri yang di Jakarta ini adalah Sri Mulyani Indrawati. Dialah menteri keuangan kita yang hebat.

Sri yang satu ini reputasinya dikenal sangat luas. Dialah satu-satunya wanita Indonesia yang pernah menjadi direktur IMF (International Monetary Fund) dan berkantor di Washington DC sana. Sri kemudian dipanggil balik ke Indonesia dan ditugasi sebagai Ketua Bappenas dan sekarang menjadi menteri keuangan.

Bedanya dengan Sri-nya Sonny yang putus asa, Sri Mulyani dikenal sebagai wanita yang tangguh. Ia satu di antara tiga wanita di kabinet SBY. Tetapi, ternyata ia tidak kalah tegas dibanding menteri-menteri lain.

Sri Probolinggo dengan Sri Jakarta ini jelas beda kapasitas. Sri Probolinggo hanya mengurusi keuangan domestik. Urusannya paling-paling cuma belanja terasi. Sri Jakarta ini bertanggung jawab terhadap rumah tangga nasional yang kompleks dan serba ruwet.

Memang ada juga sih persamaannya. Kalau sudah kepepet, Sri Probolinggo itu paling-paling bisanya cuma ngutang ke tetangga. Sri Jakarta ini ternyata juga begitu, ketika duit kita tidak cukup untuk belanja negara, tidak ada pilihan lain kecuali ngutang ke tetangga.

* * *
Sri Mulyani adalah wanita tegas dan tegar seperti Margaret Thatcher, perdana menteri Inggris 1979-1990. Seperti Sri, Thatcher adalah wanita kokoh di lingkungan pertempuran politik yang umumnya didominasi laki-laki. Thatcher menjadi perdana menteri Inggris terlama dalam sejarah dan berhasil memenangkan tiga kali pemilu.

Ia dikenal sebagai Iron Lady atau wanita besi karena ketegasannya. Dia melahirkan kebijakan ekonomi yang sangat keras yang pro kepada orang-orang kaya dan pengusaha. Thatcher tidak ragu-ragu mencabut subsidi kepada orang miskin dan membuka pasar bebas seluas-luasnya.

Peran pemerintah dipangkas seminim mungkin dan wasta diberi peran sebanyak mungkin. Jumlah orang miskin melonjak di Inggris selama kepemimpinan Thatcher. Tapi, ekonomi Inggris terbukti lebih kuat dan sehat.

Model kebijakan ekonomi ala Thatcher ini kemudian dikenal sebagai 'Thatcherism' yang sekarang terkenal dengan sebutan 'neo-liberalisme'.

Neo-liberalisme dan globalisasi sering disebutkan dalam satu tarikan napas. Globalisasi yang dikendalikan oleh IMF menghendaki dibukanya pasar secara bebas. Peran pemerintah harus dikurangi. Karena itu perusahaan BUMN harus diswastakan. Pendidikan dan kesehatan pun harus dikelola supaya efisien menghasilkan untung. Kalau kemudian menjadi mahal dan tidak terjangkau, itu urusan lain.

Ideologi inilah yang sekarang 'diugemi' oleh Sri Mulyani. Karena itu dia tidak ragu mengusulkan pencabutan subsidi dan menaikkan harga BBM.
* * *
Sri Probolinggo dan Sri Mulyani di Jakarta adalah dua sisi wanita yang berbeda. Apa pun, keduanya adalah aset bangsa. Kita tidak ingin Sri Probolinggo semakin menderita karena kebijakan Sri Mulyani di Jakarta.

Kita tidak ingin Sri Probolinggo minggat lagi. Kita juga tidak ingin Sri Mulyani ngambek dan minggat lagi ke Washington gara-gara ide-idenya tidak dipakai. Pasti ada jalan kompromi di antara pilihan-pilihan sulit ini.
Jeng Sri jangan minggat (lagi) ya…
Source: http://surya.co.id

No comments: